Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

18

Sep

Little bit about Marty Natalegawa : Marty is an Indonesian diplomat and the incumbent of Minister of Foreign Affairs of Republic of Indonesia.
And so there has been a lot of diplomatic movement.  Mitchell Reiss 
Negotiation in the classic diplomatic sense assumes parties more anxious to agree than to disagree.  Dean Acheson 
The theoretical postulate of all diplomatic discussion between nations is the assumed willingness of every nation to do justice.  Elihu Root
Of all this, I’m about to keep my imagination through the stars. I’m about to be a diplomat, a calm n egotiator representing my beloved country. 
There are a lotta journey and I’m gonna try hard. Souhaitez-moi la chance!!
 

Little bit about Marty Natalegawa : Marty is an Indonesian diplomat and the incumbent of Minister of Foreign Affairs of Republic of Indonesia.

And so there has been a lot of diplomatic movement.
Mitchell Reiss

Negotiation in the classic diplomatic sense assumes parties more anxious to agree than to disagree.
Dean Acheson

The theoretical postulate of all diplomatic discussion between nations is the assumed willingness of every nation to do justice.
Elihu Root

Of all this, I’m about to keep my imagination through the stars. I’m about to be a diplomat, a calm n egotiator representing my beloved country.

There are a lotta journey and I’m gonna try hard. Souhaitez-moi la chance!!

 

13

Apr

Indonesian Youth Conference 2010

Well, setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, gue mau menceritakan tentang Indonesian Youth Conference. Ini adalah sebuah forum di mana perwakilan anak muda dari seluruh Indonesia berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya mengenai permasalahan yang sedang in belakangan ini dan bersama-sama berdiskusi mencari solusinya dari sudut pandang youth. Sebenernya banyak banget manfaat yang bisa kita dapet kalo kita sebagai generasi muda ikut ajang ini.

Gue yang emang tertarik banget sejak awal, akhirnya coba download formulirnya dan ngisi dengan amat sangat niat, terus gue upload balik ke website-nya. Yaaa gue sih tinggal menunggu hasil saja. Setelah sekitar 2 bulan, gue cek ke www.indonesianyouthconference.org gue menemukan nama gue tidak ada disana :(

Awalnya agak kecewa juga sih, karena emang udah niat pengen ikut dan pengen all out berorientasi dengan pemuda dari seluruh Indonesia, keren aja kayanya kalo bisa bertukar pengalaman satu sama lain sambil belajar dari keunikan daerah2 peserta yang lain. Tapi gue sih menyikapinya dengan dewasa aja, at least gue sudah mencoba untuk berpartisipasi, dan gue juga gak akan berhenti nyoba buat ikut conference kayak gini, karna menurut gue event semacam ini bisa meningkatkan kualitas kita sebagai youth, dan sedikit demi sedikit memperbaiki persepsi tentang anak muda di mata masyarakat luas yang kadang suka beraroma negatif.

Padahal bayangin aja men, berdasarkan data yang ada di situs IYC, 62 juta rakyat Indonesia adalah pemuda berusia 18 sampai 30 tahun atau setara dengan 15 kali total populasi penduduk Singapura. Bayangin kalo kekuatan kita disatukan dan kita mengumpulkan segenap ide dan kreatifitas kita bareng. It’s gonna be a big thing, isn’t it?

Btw, masih ada sisa 3 peserta untuk wild card round, dan gue masih amat sangat berharap ada sebuah keajaiban dari Allah SWT yang membuat nama gue ada disana (AMIIIIIIN) ya nothing to lose sih sebenernya, cuman berharap itu gak salah kan? :D

Sebenernya gue pernah pengen ikut One Young World di London, United Kingdom, Januari lalu. Awalnya gue tau ada event itu dari kakak kelas gue, dan fortunately dia berangkat ke sana menjadi delegasi Indonesia. Sayangnya waktu itu gue belum berkesempatan karena emang telat banget taunya dan sistem voting dan sponsorship yang ada di OYW itu membutuhkan konsentrasi tinggi. Mana gue waktu itu lagi liburan di Bali pula. Yo wis lah dicoba lagi kapan-kapan. Hakikatnya kan beraspirasi gak cuma dari forum2 kayak gitu aja, ya gak?

So far, sebagai pemuda di salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia ini, gue merasa kita harus mencoba untuk lebih membuka mata. Coba peka terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita. Kita harus mulai menyadari bahwa di masa depan nanti, bakal terjadi regenerasi kepemimpinan untuk menyejahterakan bangsa ini, dan generasi muda saat ini punya potensi yang WOW untuk dikembangin. Agak sedih sebenernya kalo banyak orang yang ngeliat remaja dan pemuda yang begitu dekat dengan keributan, tawuran, berbuat onar. Padahal itu hanya sebagian kecil potret kehidupan kelam kita, yang naasnya orang dewasa -bahkan orang tua pun- melakukannya.

Gue berharap sangat banyak dari konferensi2 semacam ini untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, agar mencoba peka dan peduli terhadap sekitar, dan gak melulu ngurusin dunianya sendiri. Gue yakin kalo kita berdiri bareng2 sebagai sebuah kesatuan, kalo kita mau belajar dari kesalahan-kesalahan kita, negara ini bakal mengalami kemajuan yang sangat pesat, materially, and even morally.

Ya semoga saja harapan2 gue di atas menjadi doa bagi kita bersama, generasi muda yang punya jiwa petualang untuk menjelajahi berbagai pengalaman, membangun negeri ini lebih baik lagi. I hope so.

31

Jan

There’s never been anything false, about hope
Barack Obama

Tentang Sebuah Suara

Kali ini gue mungkin berbicara sedikit tentang isu-isu sosial yang lagi berkembang di masyarakat. Bukannya apa-apa, bukan sok tau atau sok pengen dikira pinter, tapi gue peduli aja. Dan gue emang suka banget ngangkat hal-hal kaya gini ke dalam bentuk tulisan. Kali ini gue mulai dengan bahasa yang agak baku ya, next time Insya Allah bakal lebih santai. Ya, buat permulaan. Dan jangan kaget kalau besok-besok menemukan artikel serupa! Hehehehe. Selamat membaca!


Tadi sore saya nonton acara Kick Andy di Metro TV. Seperti biasa, saya memang suka acara-acara di Metro TV. Mungkin anak seumuran saya berpikiran acara-acara itu membosankan dan tidak ada daya tariknya. Tapi menurut saya acara-acara seperti itulah yang bisa memberikan wawasan bagi anak muda yang dinamis.

Tema Kick Andy kali ini adalah buku-buku yang dibredel atau dnegan kata lain dilarang beredar. Mengenaskan memang. Secara teori, memang sejak reformasi 1998 Indonesia menjadi negara demokrasi yang mana salah satu ciri negara demokrasi adalah menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Namun pada praktiknya, sering kali disalahgunakan. Buku yang menurut saya adalah salah satu instrumen seseorang berpendapat, dalam untaian kata-kata, merupakan wujud kebebasan berpendapat yang nyata dan selayaknya dilindungi oleh pemerintah. Kalau menilik ke belakang, Indonesia pernah mengalami masa-masa seperti ini. Kapan? Tepatnya pada masa orde baru. Di mana pemerintah memang melindungi dirinya dari segala macam pemberitaan negatif sehingga melakukan banyak pembredelan dan pemboikotan segala bentuk sarana berpendapat. Dan nahasnya, hal tersebut terulang lagi : sekarang.


Saya sempat bertanya-tanya, ini benar-benar era reformasi kan? Mengapa kebebasan berpendapat menjadi sesuatu yang mahal? Kalau dilihat-lihat memang buku-buku yang dibredel cukup kontroversial, seperti buku karya anak bangsa asal Papua, Socratez Yoman, yang berjudul “Pemusnahan Etnis Melanesia”. Atau buku karya John Rossa yang berjudul “Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto”


Coba kita bedah sedikit. Buku “Pemusnahan Etnis Melanesia” karya Socratez bercerita tentang tindakan-tindakan kasar para penegak hukum di Papua (yang notabene bukan orang Papua-red) dalam menyikapi masalah OPM (Organisasi Papua Merdeka-red). Banyak orang Papua yang non-OPM diklasifikasikan sebagai OPM dan diperlakukan serta ditindak tidak manusiawi (seperti ditendang, dipukul, ditangkap, bahkan dibunuh-red). Dan yang lebih meyakinkan, penulisnya adalah orang Papua sendiri. Yang barangkali melihat sendiri perlakuan-perlakuan keji tersebut. Menurut saya, sama sekali tidak ada salahnya kalau ia menuangkan segala keluh kesahnya dalam bentuk buku, yang bisa menjadi referensi bagi orang lain. Namun pada kenyataannya, buku tersebut malah dibredel, dilarang terbit dengan alasan melanggar ketertiban umum.


Begitu juga dengan buku John Rossa yang berjudul “Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto”. Buku tersebut bercerita tentang Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G/30/S PKI. John menuturkan bahwa fakta yang dibeberkan selama ini, pada dasarnya merugikan banyak orang karena dituturkan secara sepihak. Para pelaku G/30/S selalu dituduhkan sebagai PKI, padahal pada kenyataannya kita tidak tahu. Semua itu menjadi bagian dari konspirasi besar yang dilakukan pemerintahan orde baru dalam rangka mencapai reputasi politik dan kepentingan kekuasaan.


Sebenarnya, yang ingin saya tekankan bukan masalah esensi isi buku tersebut. Tapi lebih kepada bagaimana negara ini menyikapi kebebasan anak bangsanya yang memiliki kemampuan berkarya dalam bentuk uraian kata-kata dan dituliskan melalui buku. Ini baru merupakan contoh kecil. Apalagi, alasan pembredelan yang sering kali digunakan adalah mengganggu ketertiban umum. Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan ketertiban umum? Apakah membuat jalanan macet, kerusuhan, kegaduhan, kekerasan di muka umum? Jelas bukan!


Saya rasa banyak yang harus dibenahi. Dulu saya sempat berpikir negara ini benar-benar sudah merdeka dan saya sudah bisa bebas berpendapat. Tapi ternyata tidak sebebas itu. Kalau kita bandingkan, keadaan saat ini sama saja dengan 30-40 tahun lalu di mana buku-buku dibakar sana-sini, dilarang beredar dengan alasan menghina pemerintahan. Bung! Negara ini sudah berubah (katanya)! Ini bukan lagi zaman di mana kita bisa main bredel sana bredel sini, esensi apalagi yang mau dikedepankan sebagai alasan? Mengganggu jalannya pemerintahan? Atau mungkin merusak citra pemerintah?


Coba lagi, kita bandingkan dengan di Amerika Serikat. Di sana juga menggunakan sistem politik kedaulatan rakyat dan yang berbeda adalah kebebasan bersuara sangat dilindungi di sana. Setiap prang bebas saja memberikan kritik kepada pemerintahan, kapan pun. Di sana kritik dianggap sebgaai sesuatuu yang membangun, dan lebih dari itu sebgagai kedewasaan berpolitik dan berpraktik demokrasi. Tapi di sini? Saya memang tidak habis pikir. Belum lagi yang memiliki wewenang menentukan buku yang layak atau tidaknya beredar adalah Kejaksaan Agung. Atas dasar apa coba? Apa mereka itu ahli-ahli dalam bidang sastra dan interpretasi bahasa sehingga bisa menafsirkan makna dari setiap kata yang ada di buku?


Semuanya terlanjur tidak teratur. Negara demokrasi yang ideal, yang setiap orang dambakan adalah suatu kondisi di mana kita bisa bebas bersuara, ya, bebas bersuara. Contoh lainnya, yang baru-baru ini kita dengar. Prita Mulyasari, seorang ibu yang mengalami salah diagnosa penyakit di RS Omni International dan menceritakan pengalaman pribadinya tersebut kepada teman-temannya melalui sebuah milis, dituntut dengan UU ITE, yang pada akhirnya mengharuskan ia membayar denda perdata sebesar 200 juta rupiah dan bahkan sempat dipenjara. Mengenaskan bukan main. Yang saya heran adalah bisa-bisanya semua aparat penegak hukum, mulai dari jaksa, hakim, polisi yang menangani kasus tersebut diam saja dan tetap melaksanakan sidang. Padahal menurut saya, UU ITE yang menjerat Prita jelas bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 28E ayat 3 yang bunyinya “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

George Aditjondro dengan bukunya “Gurita Cikeas” ikut muncul ke permukaan dengan isinya yang mengkritik habis pemerintahan SBY. Satu pendapat saya. Harusnya pemerintahan SBY tidak perlu takut kalau hal-hal yang dituduhkan George memang tidak benar. SBY sebagai kepala negara harusnya menunjukkan sikap yang tenang dan harusnya ikut mendukung kebebasan berpendapat, sekali lagi terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut. Dan sekali lagi, kalau mengedepankan isu penurunan reputasi pemerintahan karena pemberitaan seperti itu, memang dapat terjadi. Namun hal tersebut bukanlah faktor satu-satunya. Dari pada ribut mengurus pengaduan Pencemaran Nama Baik ke polisi, sebaiknya Presiden dan awak-awaknya berkaca dan berbenah. 


Dengan contoh-contoh di atas, saya ingin mengajak kita semua berpikir. Betapa mahalnya sebuah suara di negara yang katanya “bebas berpendapat” ini. Sebuah keluh kesah harus dibayar dengan Rp 200.000.000,- atau bahkan suara orang-orang yang kritis dibredel. Semua itu jelas salah. Kemana lagi kami mau berbicara kalau di negeri ini kami dilarang? Pemerintah harusnya mempertimbangkan masalah ini. Karena pada hakikatnya kebebasan berpendapat adalah ciri khusus dan mutlak dari sebuah negara berkedaulatan rakyat. Pemerintah harusnya mengintrospeksi diri. Kalau ada kritik terhadap pemerintahan, jangan langsung dibilang fitnah. Coba saja berkaca dan lihat siapa yang memilih mereka sehingga bisa duduk di sana? Rakyat! Jelas kalau begitu, rakyat juga punya hak untuk bersuara, ya, bersuara.

27

Sep

FAKTA BAHWA AYAM MCD ITU HARAM! WATCH THE VID!

TODAY’S RECORD

today’s record : GUE AKAN MENCOBA MEMBUKA BUKU BIOLOGI DALAM BEBERAPA MENIT KEDEPAN. WISH ME LUCK!

dreamsthesky:

catchadeer:

belajar masak, pake ginian … hahahaha
rasanya asem manis gitu campur saos tomat spaghetti …
woowww….cheff Faisal !


eh odong ini gue kemaren masak ginian juga bukan pake saos tomat! cuman direbus pake air, minyak sama susu doang ini enak banget cuman bukan pake saos tomat HAHAHA -.-

dreamsthesky:

catchadeer:

belajar masak, pake ginian … hahahaha

rasanya asem manis gitu campur saos tomat spaghetti …

woowww….cheff Faisal !

eh odong ini gue kemaren masak ginian juga bukan pake saos tomat! cuman direbus pake air, minyak sama susu doang ini enak banget cuman bukan pake saos tomat HAHAHA -.-

I’m bored.

(via amindarinadia)

do sumthin unboring!

helo

it’s been so long time i haven’t posted here. hmm the day is getting busier because the holiday is gonna be ended immediately. there are a lotta daily routinities we have to do, yea whatev as long as not MID TEST. it’s terrible. it’s miserable. it makes me get a strong head-ache and now i haven’t touched the book at all. terrible, yes terrible. that’s the most terrible part.

i plan to start studying tonight at 10 am and i hope this time i will really fulfill my promise, and i have recharged my mood so I hope i can fall in love with xilem and floem, or maybe hang out with forces between moleculs or dipoles? ugh i think youre getting crazy if you read this. yeah and i just need a good ambience to study tonight. at least i slept this afternoon so i hope i won’t be sleepy at night. WISH ME LUCK WITH MY CONFUSING STUFFS!

23

Sep

dreamsthesky:

secondtrips:

kamen raider having sex hahaha
this photo was captured by : anastasya cindy ahimsa putri THATS ME haha

randa: wah cindy…ckckckckck…


eh ini what are they doing deh? having sex? hauahhaa erotis abis

dreamsthesky:

secondtrips:

kamen raider having sex hahaha

this photo was captured by : anastasya cindy ahimsa putri THATS ME haha

randa: wah cindy…ckckckckck…

eh ini what are they doing deh? having sex? hauahhaa erotis abis